Samsung kabarnya tengah menyiapkan perangkat wearable baru yang menyasar segmen entry-level. Smartwatch tersebut akan mengusung nama Samsung Galaxy Aero. Produknya siap masuk sebagai alternatif yang lebih terjangkau dari lini Galaxy Watch premium.
Meski belum ada konfirmasi resmi, keberadaan perangkat ini mulai menjadi perbincangan. Tepatnya setelah sejumlah referensi muncul di aplikasi “Galaxy Wearable”. Temuan itu memunculkan dugaan bahwa Samsung sedang memperluas portofolio smartwatch dengan pendekatan berbeda. Khususnya dalam rangka mengutamakan efisiensi biaya sekaligus daya tahan baterai.
Bocoran Spesifikasi Samsung Galaxy Aero
Informasi mengenai Galaxy Aero pertama kali mencuat setelah SamMobile menemukan referensi perangkat baru di Galaxy Wearable. Pada kode tersebut terdapat nama “galaxy_rtos_watch”. Data yang tampak mengisyaratkan smartwatch ini siap menggunakan Real-Time Operating System (RTOS).
Berbeda dengan Galaxy Watch yang mengandalkan Wear OS hasil kolaborasi Samsung dan Google, RTOS merupakan sistem operasi lebih ringan. Bahkan rumornya memang dirancang untuk menjalankan fungsi-fungsi tertentu secara efisien.
RTOS sendiri hadir untuk menangani tugas secara cepat tanpa membutuhkan spesifikasi perangkat keras yang tinggi. Pada smartwatch, sistem tersebut mampu menjalankan berbagai fungsi penting. Berikut beberapa contoh tugas yang dapat mereka tangani.
- Menampilkan waktu
- Menghitung langkah kaki
- Memantau detak jantung
- Melacak kualitas tidur
- Menampilkan notifikasi dasar
Karena kebutuhan sumber dayanya lebih kecil dibandingkan Wear OS, smartwatch berbasis RTOS dapat menggunakan prosesor sederhana. Begitu juga kapasitas RAM lebih rendah dan baterai tidak terlalu besar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi jadi semakin efisien. Hasilnya harga jual perangkat berpotensi lebih murah.
Fitur Kemungkinan Tidak Selengkap Wear OS
Di balik efisiensi Samsung Galaxy Aero, penggunaan RTOS ternyata memiliki keterbatasan. Wear OS menawarkan pengalaman lebih lengkap karena mendukung instalasi aplikasi pihak ketiga. Termasuk melalui Google Play Store, navigasi Google Maps, Google Wallet, hingga berbagai layanan Google lainnya.
Sementara itu, Galaxy Aero kemungkinan hanya akan mengandalkan aplikasi bawaan Samsung beserta fitur kesehatan dan kebugaran standar. Kemampuan membalas notifikasi maupun dukungan aplikasi tambahan kemungkinan juga lebih terbatas. Meski demikian, bagi pengguna yang hanya membutuhkan fungsi dasar smartwatch, keterbatasan tersebut mungkin bukan menjadi masalah besar.
Galaxy Fit 3 Bisa Menjadi Gambaran
Samsung sebenarnya bukan pertama kali memanfaatkan RTOS pada perangkat wearable. Sebelumnya, Galaxy Fit 3 juga menggunakan sistem operasi ringan tersebut untuk menjalankan berbagai fitur kebugaran. Misalnya saja pemantauan aktivitas harian, pelacakan tidur, pengukuran detak jantung, kontrol media, hingga notifikasi.
Perangkat tersebut mampu menawarkan masa pakai baterai yang panjang meski hanya dibekali baterai berkapasitas relatif kecil. Pengalaman serupa diperkirakan dapat dihadirkan kembali melalui Galaxy Aero. Kendati begitu, dalam bentuk smartwatch dengan desain yang lebih menyerupai Galaxy Watch.
Berpotensi Menjadi Penantang Baru Amazfit
Apabila benar dipasarkan dengan harga lebih kompetitif, Galaxy Aero berpeluang menjadi pesaing kuat di kelas smartwatch entry-level. Selama ini, segmen tersebut cukup ramai terisi oleh berbagai produk dari Amazfit, Motorola dan Huawei.
Strategi itu juga memungkinkan Samsung menjangkau konsumen yang selama ini menganggap Galaxy Watch memiliki harga mahal. Dengan menghadirkan pilihan lebih ekonomis, perusahaan dapat memperluas pangsa pasar wearable. Tentunya tanpa harus mengorbankan lini premium yang sudah ada.
Hingga saat ini, Samsung belum mengumumkan keberadaan Galaxy Aero maupun mengungkap spesifikasi resminya. Seluruh informasi yang beredar masih berasal dari temuan kode di aplikasi Galaxy Wearable. Sehingga detail mengenai desain Samsung Galaxy Aero, harga, jadwal peluncuran, hingga fitur lengkapnya masih belum diketahui.












