Google memperluas Android Earthquake Alerts System, sistem peringatan dini gempa berbasis ponsel Android, dari 98 negara dan wilayah menjadi lebih dari 200. Pengumuman itu terbit di blog resmi Google pada Kamis (15/10/2026) pukul 23.00 WIB.
Kabar ini terasa dekat buat pengguna di Indonesia, negara yang hampir setiap hari mencatat gempa. Masalahnya, saat Gizmokrat mengecek halaman bantuan resmi Google pada Jumat (16/10/2026) pagi, Indonesia belum tercantum di daftar wilayah tempat sistem ini aktif.
Satu miliar peringatan sejak 2021
Google menyebut Android Earthquake Alerts System sebagai jaringan deteksi gempa berbasis ponsel terbesar di dunia. Sejak diluncurkan pada 2021, sistem ini diklaim sudah mengirim lebih dari satu miliar peringatan agar orang bisa bersiap sebelum guncangan terasa.
Dalam ekspansi terbaru, Google menyebut beberapa wilayah baru seperti Panama dan Guatemala. Daftar lengkapnya bisa dilihat di halaman bantuan Android yang ditautkan dari pengumuman tersebut.
Tiga level peringatan, Be Ready dapat peta
Kalau gempa terjadi di wilayah yang sudah aktif, pengguna Android akan menerima salah satu dari tiga jenis peringatan. Semakin kuat estimasi guncangannya, semakin mencolok peringatannya.
| Level | Estimasi guncangan | Bentuk peringatan |
|---|---|---|
| Be Aware | Ringan | Notifikasi sederhana bahwa gempa terdeteksi di sekitar |
| Be Ready | Lebih kuat | Peringatan detail agar kamu bersiap mengambil tindakan |
| Take Action | Sedang hingga kuat | Peringatan layar penuh dengan saran langsung untuk menyelamatkan diri |

Google juga memperbarui peringatan Be Ready. Dalam beberapa bulan ke depan, peringatan ini akan menampilkan peta radius wilayah yang terdeteksi bergetar, estimasi magnitudo, tindakan yang bisa kamu lakukan, dan tombol untuk membaca informasi gempa yang terus diperbarui.
Cara kerja dan batasannya
Menurut halaman bantuan Google, ponsel Android mengirim peringatan untuk gempa bermagnitudo 4,5 ke atas berdasarkan lokasi perkiraan pengguna. Google menyatakan lokasi kasar dari perangkat Android dipakai untuk menentukan ponsel mana yang menerima peringatan, dan tidak dipakai untuk mengidentifikasi pengguna tertentu.
Google juga memberi beberapa catatan. Tidak semua gempa bisa terdeteksi, estimasi magnitudo dan intensitas guncangan bisa meleset, dan peringatan bisa datang sebelum, saat, atau setelah guncangan dimulai.
Pengaturannya ada di menu Settings > Safety & emergency > Earthquake Alerts, dan peringatan bisa dimatikan kapan saja. Kalau kamu tidak ingin ponselmu ikut berkontribusi pada deteksi gempa, Google menyarankan mematikan Google Location Accuracy.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di daftar wilayah aktif pada halaman bantuan Google, urutan huruf I berisi Iceland, India, Iran, dan Iraq, tanpa Indonesia. Malaysia, Brunei, Kamboja, dan Laos sudah masuk daftar. Google tidak menjelaskan alasan Indonesia belum tercantum, dan belum ada pengumuman jadwal aktivasinya.
Artinya, untuk sementara pengguna Android di Indonesia tetap perlu mengandalkan informasi resmi BMKG, termasuk aplikasi Info BMKG, untuk peringatan dan informasi gempa. Gizmokrat akan memperbarui artikel ini jika Google mengonfirmasi ketersediaan di Indonesia.
Pengumuman ini muncul bersamaan dengan rilis white paper Crisis Resilience dari Google tentang kesiapan menghadapi bencana alam. Fitur keselamatan seperti ini juga makin sering jadi nilai jual ponsel Android baru, termasuk Google Pixel 11 Pro Fold.
Sumber: Google Blog dan halaman bantuan Android.












